Komunitas Aleut

Saya, Buku, dan Komunitas Aleut

buku-bandung

Sewaktu masih duduk di SD, buku favorit saya adalah buku pelajaran Sejarah SD karena ada bab tentang kerajaan Hindu dan Budha. Saya yang masih kecil itu sangat senang dengan cerita kesaktian raja dan perang-perang yang terjadi di masa kerajaan. Hingga tidak jarang saya membayangkan diri saya berperan menjadi salah satu prajurit di cerita tersebut.

Lalu, buku favorit saya berganti menjadi buku serial detektif Sherlock Holmes. Alasannya sungguh sederhana, yakni saya ingin mengetahui bagaimana cara membunuh orang tapi menggunakan cara yang cerdas.

Sialnya, saat masuk bangku SMA, saya mulai menjauhi buku karena mulai menyenangi musik. Uang saya tidak dipakai untuk membeli buku, melainkan peralatan musik dan menyewa studio band. Menjauhnya saya dengan buku berlangsung hingga tahun 2013.

Ada apa dengan tahun 2013?

Saya mengingat tahun 2013 tidak hanya sekadar angka saja. Saya mengingat tahun 2013 sebagai tonggak balikan dengan buku. Seperti balikan dengan mantan, terdapat mak comblang yang menyatukan saya dengan buku. Yap, mak comblang itu bernama Komunitas Aleut.

Momen balikan itu ditandai dengan pembelian buku “Selamat Tinggal Hindia Belanda : Janji Pedagang Telur” karya Pans Schomper. Saya membeli buku ini setelah NgAleut pertama bertajuk “NgAleut Imlek” karena penasaran dengan isi bukunya.

Perkenalan saya dengan buku bertema Bandung tidak berhenti di buku Pans Schomper. Saya mulai berkenalan dengan buku-buku karya Haryoto Kunto, Sudarsono Katam, Us Tiarsa, dan penulis buku Bandung lainnya. Perkenalan itu tidak terjadi secara sendirinya, melainkan dikenalkan oleh Ayan, Hani, BR, dan penggiat Komunitas Aleut lainnya.

Setelah berkenalan, saya mulai rutin membeli buku-buku bertema Bandung di lapak buku on line dan off line. Mengenai jumlah buku, saya hanya bisa menjawab dengan kalimat “hehehe” saja. Tidak hanya mengenal buku saja, saya juga mulai berkenalan dengan para penjual buku.

Semua peristiwa yang terjadi sejak tahun 2013 hingga sekarang berawal dari aktifnya saya di Komunitas Aleut. Kadang-kadang saya selalu membayangkan apa yang akan terjadi antara saya dengan buku jika tidak di aktif di Komunitas Aleut. Mungkin saya tidak akan berjumpa kembali dengan buku dan “putus” selamanya dengan buku. Hatur nuhun, Komunitas Aleut!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s