Catatan Perjalanan

Catatan Perjalanan: Museum Bahari

Sekitar 30 menit dari penginapan saya di kawasan Kota Tua, terdapat satu museum yang terkenal di Jakarta. Museum itu memajang barang-barang yang berkaitan dengan pelayaran dan maritim di Indonesia. Bangunan yang digunakan museum itu adalah bekas gudang rempah di jaman VOC dan Hindia Belanda. Museum itu adalah Museum Bahari.

***

Museum Bahari bisa diakses dengan berbagai cara jika titik pertama kita adalah Kota Tua. Cara pertama, menggunakan bajaj dari Halteu Busway Kota Tua dengan ongkos 15.000. Cara kedua, menggunakan angkot trayek no. 2 yang berongkos 3.000. Nah, cara terakhir adalah dengan berjalan kaki melalui Taman Fatahillah – Jalan Kali Besar Barat – Jalan Tol Pelabuhan – Jalan Kakap.

Menara Syahbandar
Menara Syahbandar

Dari ketiga cara itu, saya lebih menyukai cara ketiga lantaran bisa melihat bangunan tua dan objek sejarah lainnya. Di Taman Fatahillah, saya bisa melihat Museum Sejarah Jakarta (eks Stadhuis) dan Museum Wayang. Sepanjang Kali Besar Barat, saya bisa menikmati keindahan sisa kolonial seperti Toko Merah. Saat di Jalan Tol Pelabuhan – Jalan Kakap, terdapat dua objek sejarah asik yakni Jembatan Kota Intan (Engelse Burg) dan Galangan VOC. Mendekati Museum Bahari, mata saya akan disuguhi pemandangan Menara Syahbandar dan tugu revitalisasi daerah Pasar Ikan di belakang Galangan.

Sesampainya di dekat Menara Syahbandar, saya segera disambut oleh benteng tinggi berwarna putih dan plang bertuliskan “Museum Bahari”. Sambutan itu tidak terlalu saya hiraukan karena saya sedang asyik membaca sejarah awal mula Museum Bahari di papan keterangan yang terletak sebelum gerbang masuk museum.

Setelah asyik membaca, barulah saya masuk ke dalam museum dengan membayar tiket masuk seharga 5.000. Sayang, tidak ada plamflet berisi trek atau prolog perjalanan di dalam museum setelah membayar tiket. Saya hanya diberikan arah menuju ruangan pertama oleh pemberi tiket.

Saat masuk ke ruangan pertama, saya agak terkejut melihat begitu banyak barang pajangan. Miniatur kapal laut, peralatan dan bagian kapal, maket kota Batavia, dan foto-foto tempo dulu adalah barang pajangan yang berada di ruangan pertama. Semua pajangan itu tersusun rapi, tapi padat.

Barang pajangan yang padat dan rapi terlihat kembali saat saya memasuki ruangan-ruangan berikutnya. Perbedaannya dengan ruang pertama adalah barang yang dipajang. Sebagai contoh, ada satu ruangan yang hanya berisi kapal tradisional nusantara, ada pula satu ruangan yang isinya foto-foto pemimpin TNI AL, bahkan ada yang hanya berisi lukisan-lukisan pahlawan maritim Nusantara.

Diorama Malin Kundang

Tapi, dari seluruh ruangan di museum, ada satu ruangan yang memberi kesan tersendiri yakni ruangan diorama yang berlokasi di lantai dua. Kesan itu saya dapatkan saat mengetahui bahwa skala diorama itu 1:1. Selain itu, cerita yang disampaikan oleh diorama begitu beragam. Ada diorama yang menggambarkan legenda seperti diorama Nyi Roro Kidul. Ada pula diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah.

Rupanya ruangan diorama adalah ruangan terakhir yang bisa saya kunjungi di Museum Bahari. Bukan karena ruangan diorama adalah ujung dari jalur tur museum, melainkan karena badan saya yang sudah tidak toleran dengan hawa panas Jakarta di siang hari.

Sebelum saya pulang melalui gerbang masuk museum, saya sempatkan untuk naik ke benteng putih Museum Bahari untuk mengambil foto lingkungan museum.

Dinding Benteng Museum Bahari
Dinding Benteng Museum Bahari

Ah, andai badan saya cukup toleran dengan hawa panas Jakarta, mungkin saya bisa menjelajahi setiap sudut dan ruangan di Museum Bahari. Lain kali, jika mendapat kesempatan kembali, saya wajib menyiapkan sunblock.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s