Catatan Perjalanan

Isi Tiga Kepala di Museum Bahari

Satu pagi yang berbeda dari pagi-pagi pada umumnya di Bandung yang dingin dan sejuk. Pagi itu lebih diisi oleh udara pengap dan hawa gersang. Ah, mungkin ini yang disebut pagi di Jakarta.

Pagi itu di Jakarta, saya mendapat kesempatan langka untuk berkunjung ke Museum Bahari di Jakarta Utara. Saya menyebut langka karena sudah empat kali saya ke Jakarta dan empat kali itu pula saya tidak berhasil mengunjungi Museum Bahari. Tapi, pada kunjungan kelima, seorang kawan berbaik hati ingin menemani dan mengantar saya ke Museum Bahari.

Tidak seperti yang dianjurkan oleh buku panduan wisata Jakarta yakni menggunakan angkot atau bajaj, saya memilih berjalan kaki untuk mencapai Museum Bahari. Kebetulan penginapan saya itu dekat dengan Museum Bahari, kira-kira sekitar 30 menit berjalan kaki. Selain dekat, saya memilih berjalan kaki karena bisa melewati beberapa objek sejarah yang berkaitan dengan Museum Bahari.

Setelah berganti baju ke baju merah dan memakai kaca mata, saya bergegas ke Museum Bahari.

Sesampainya di Gerbang Museum Bahari berwarna putih, perasaan saya bercampur aduk. Senang karena bisa melihat langsung museum yang sebelumnya selalu saya lihat hanya dari web atau buku. Kesal penuh umpatan karena pagi di Jakarta sangat tidak nyaman. Tapi, perasaan senang saya mengalahkan kekesalan itu, lalu saya masuk dan bayar tiket sebesar 5.000.

Saya sungguh senang saat menjelajahi setiap sudut dan ruangan di museum. Entah apa yang terjadi di diri saya, tapi barang pajangan, suasana museum, dan papan keterangan berhasil mendorong imajinasi saya untuk bertualang sebagai pelaut di dunia masa lalu. Ih, senangnya!

***

Matahari pagi sudah naik dan menyinari benteng putih Museum Bahari. Saking sudah naiknya, sinar matahari pagi bisa saja membakar kulit aku. Rasanya ingin bermalas-malasan di tempat tidur tanpa harus ke museum untuk bekerja saat disengat oleh sinar matahari pagi ini.

Matahari sudah naik dan sudah waktunya gerbang museum dibuka untuk umum. Aku harus bergegas ke kamar ganti untuk berganti baju. Hari itu, aku harus berbusana seperti si Pitung dengan golok mainan dan kopiah hitamnya. Aku harus berbusana seperti demikian agar pas dengan suasana Betawi yang disajikan oleh pihak museum.

Sesudah berganti busana, aku bersama rekan kerjaku harus bergegas ke gerbang museum. Di sana, aku akan menjadi penyambut para pengunjung museum. Lalu, jika ada yang bertanya, aku akan menjawab seluruh pertanyaan mereka semampuku.

Satu jam pertama, tidak ada pengunjung yang datang. Satu jam berikutnya pun demikian, tidak ada pengunjung. Baru tiga jam setelah museum dibuka, seorang laki-laki tinggi berkacamata dan berkaos abu-abu bersama perempuan berkerudung abu-abu datang ke museum dan menjadi pengunjung pertama.

Aku lupa nama laki-laki itu, tapi dia terlihat sangat senang. Matanya jauh lebih bersinar dibanding perempuan di sebelahnya. Segera dia mengeluarkan smartphonenya, lalu memotret gila-gilaan. Mungkin seluruh sudut museum telah difotonya.

Aku datangi dia dan mengucapkan selamat pagi padanya. Dia tersenyum, lalu bertanya, “Mas, di mana loket tiket?” Aku ajak dia ke loket tiket di dekat pintu masuk di dekat tangga ke lantai dua. Segera saja dia mengeluarkan uang 10.000 dan sedikit berlari ke ruangan pertama yang berisi sejarah maritim Nusantara.

Setelah pasangan itu, datanglah satu keluarga berisi ayah, ibu, dan empat anaknya. Ayah membawa tas ransel berwarna hitam, entah isinya apa. Sedangkan ibu membawa tote bag berisi dua botol Aqua ukuran 1.5 L dan berbagai jajanan pasar. Sepertinya mereka sedang piknik dengan berkunjung ke Museum. Alangkah bagusnya pilihan menghabiskan akhir pekan mereka itu.

Beberapa menit kemudian, dua perempuan abg datang dengan kamera Go Pro dan DSLR Canon di tangan mereka. Di punggung mereka terdapat ransel kecil berwarna pink. Mereka bayar tiket, tapi tidak masuk ke ruangan pertama museum. Mereka malah berjalan kaki ke lapangan di tengah museum. Entah apa yang mereka kerjakan di sana.

Entah berapa lama dari kedatangan dua perempuan abg, datang enam turis asing. Mereka mendatangiku dan menanyakan apakah aku bisa memandu mereka. Aku yang biasa memandu dengan Bahasa Inggris mengiyakan permintaan mereka. Segera aku ijin ke rekan kerjaku dan mengantar mereka berkeliling di museum.

Saat mengantar turis asing ke ruangan diorama yang berlokasi di lantai dua, aku bertemu dengan keluarga yang kutemui sebelumnya di gerbang. Keluarga itu sedang asik menikmati cerita dari diorama Malin Kundang sambil memakan lemper. Lalu, entah sengaja atau tidak, si ibu melempar kulit lemper ke lantai. Tentu saja, hal itu membuatku marah, tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain mengambil kulit itu lalu membuangnya di tempat sampah.

WhatsApp Image 2016-08-30 at 12.15.07 (1)

Selesai dari ruangan diorama dan seluruh ruangan di lantai kedua, aku bersama rombongan turis turun ke lapangan. Di sana, aku bertemu dengan dua abg perempuan. Seberapa lama mereka di sana, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya mereka sangat khusyu saat selfie dengan latar belakang pintu kayu besar. Apa itu yang mereka lakukan dari awal kedatangan mereka? Apa mereka tidak bosan dengan kegiatan itu? Atau apakah mereka tidak merasa merugi telah datang ke museum dan hanya diisi dengan selfie saja? Ih, aneh sekali mereka.

***

Pagi telah berubah menjadi siang hari di Museum Bahari. Tentu saja, terik matahari semakin menjadi-jadi saat siang tiba. Panas dan gersang adalah ciri khas siang hari di Museum Bahari.

Jendela di Ruangan Pertama
Jendela di Ruangan Pertama

Tapi hawa panas itu tidak terlalu mempengaruhi aku, si kemudi kapal yang terbuat dari kayu di lantai pertama. Aku akan tetap kokoh di ruangan pertama museum. Memang warna kayuku telah memudar lantaran usiaku yang sudah tidak muda lagi, tapi aku mungkin masih kuat menjadi pajangan hingga 20 tahun lagi.

Hanya ada satu hal yang membuatku khawatir. Bukan waktu, tapi tangan jahil yang ingin memegangku dan memutar-mutar diriku. Aku takut rusak dan lepas dari engsel penahanku jika terlalu sering disentuh dan diputar-putar.

Sebetulnya perasaan khawatir disentuh itu tidak dialami oleh diriku saja. Miniatur perahu layar, temanku yang sama-sama dipajang di satu ruangan, juga merasakan apa yang kukhawatirkan. Bahkan pernah sekali waktu, seorang pemuda tinggi berkacamata dan berbaju merah hampir merusak layar si miniatur saat pemuda itu memegangnya.

Ah, apa sih yang berada di pikiran pengunjung saat memegang diriku dan barang pajangan museum? Apa mereka belum puas dengan teks di papan keterangan? Atau  mereka hanya iseng saja? Tapi bukankah iseng menjadi sangat keterlaluan jika diriku dan barang pajangan museum rusak? Ah, anjis, kenapa tidak ada yang mau menjaga kami? Ah, sudahlah, daripada ngedumel tidak karuan, lebih baik aku berusaha tabah saat dipegang oleh pengunjung-pengunjung sialan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s